Showing posts with label Princess Poetry. Show all posts
Showing posts with label Princess Poetry. Show all posts

Jogja 19 Desember

Tuesday, December 21, 2010

Jogja, 19 desember

Malam itu batinku bergejolak

Layaknya orang yang diberi wangsit

Aku pun tersadar dan mengetahui

Hubungan itu sudah ku ketahui

Tanpa ada yang memberi tahu

Walau mereka menyangkal lidahnya

Walau mereka tutupi semua

Jujur aku terluka

Bukan patah hati karna masih cinta

Tapi aku kecewa

Karna mereka berdua berdusta

Tutupi rasa di hati mereka

Tipu diriku seakan tiada

Padahal sudah terlukis semua

Dalam gerak tubuh maupun pandangan mereka

Aku sungguh kecewa

Aku hanya berharap suatu keterbukaan

Aku rela dengan hubungan mereka

Tapi mengapa mereka tutupi dengan tirai transparan

Itu tak berarti aku tak mengetahui

Aku sadar dan tahu tentang kalian

Ini sudah yang kedua kalinya kau ingkari

Kepercayaan yang aku berikan

Aku kecewa sangat

Kini

Thursday, January 07, 2010

Kini...
Ombak itu pergi
Tinggalkan laut buat sepi

Kini...
Ombak itu punya pengganti
Laut tak terguncang seakan mati

Kini...
Laut itu merintih
Rindukan ombak gusah nan gundah

Kini...
Sunyi meniti jejang sang ombak
Ombak yang dulu setia temani

Kini...
Laut beranjak mati
Semakin perih dalam sendiri

Inginku

Ingin rasanya ‘ku seperti mereka
Rasakan bahagia jadi orang kaya
Ingin ‘ku menjadi mereka
Dikelilingi harta dan juga tahta

Mau ‘ku, aku menjadi sama seperti mereka
Minta ini itu dikabulkan dengan segera
Mau ‘ku dikenal seperti mereka
Kemana pun ‘tak ada yang memandang sebelah mata

Tapi, aku ya tetap diriku
Hidup seadanya tanpa merasa malu
Aku harus tetap jadi diriku
‘Tak pernah malu akui keterbatasan keluargaku

Hidup ini memang sudah ditentukan
Kaya miskin ‘tak jadi persoalan
Yang penting sekarang adalah menuntut ilmu
Agar aku bisa bahagiakan kedua orang tuaku

Kerinduan

Andai waktu bisa ku putar kembali.
Akan ku kembalikan iya saat dimana aku masih bermimpi.
Bermimpi untuk menemui kebahagian sejati.
Walupun ku tau semua hanya bualan dan ilusi.

Andai kita bisa bersama.
Pasti kan ku buka tawa selebar paha.
Ku bagi cerita sepanjang mongolia.
Ku akan ukir haru biru.
Layaknya ukiran sang tukang kayu.

Tapi aku tau itu tak mungkin lagi terjadi.
Tak ada lagi tawa seperti tawa mu.
Tak ada lagi tulus seperti tulus hatimu.
Tak ada lagi orang yang seperti kamu.
Engkau telah mengisi ruang kosong hati ini.
Kau isi hari.
Kau wujudkan mimpi.
Tapi,
Kenapa kita jadi terpencar begini.
Aku disini masih termenung.
Engkau disana hanya terdiam.
Dia disana hanya mendekap sunyi sepi.
Aku merindukan suasana lama itu.
Aku rindu semuanya.
Aku rindu .
Aku rindu. Ingin rasanya ku kembali ke masa lalu.
Masa yang tak akan sama dengan waktu kini.
Masa dimana semua saling merangkul.
Bukan masa saling menjajaki.

Aku tak ingin merasa diasingkan.
Dengan ketidakhadirannnya sahabat setiaku.
Tapi apadaya. Aku tak bisa.
Aku hanya bisa tersenyum menutupi galau ku.
Ku hanya bisa merintih di sanubari.
Aku hanya bisa menulis rintisan hati ke dalam puisi.
Andai aku bisa.
Akan ku boyong teman-temanku ke dunia ku.
Ke tempatku sekarang.
Tempat yang kosong.
Sangat melompong.
Seperti karang yang ompong .

Aku benci ini semua.
Kura-kura ninja!!

Maaf Atas Kebodohanku

Bukan berarti aku tak peduli.
Maaf.
Bukan berarti tak sayang lagi.

Maaf atas semua kebodohanku.
Aku memang begitu hina..
Aku tidak bisa mengantarkan jedamu.
Jeda saat kita harus berpisah sebentar dan bertemu lagi.
Maaf.
Atas segalanya.
Aku menyesal.
Kenapa aku hanya bisa terdiam saat keberangkatanmu.
tapi sungguh,
hati ini tak berniat begini.
Aku ingin mengantarmu.
Tapi tak bisa.
Banyak sekali halang merintang di atsnya.
Membat aku hanya bisa diam.
Tangisi keberangkatanmu.
Membuatku merasa menjadi orang yag paling bodoh di dunia.
Maafkan aku teman.
Aku sayang kamu.

Benci Aku

Saat semua tercampur.
Berbaur.
Mengaduk dan teraduk.
Aku menjadi resah karenanya,.
Panas dibuatnya.
Geram.
Terbakar.
Meleleh.
Entah apa yang terjadi.
Entah apa yang terasa.
Semua terlihat sama.
Hampa.
Fana.
Beku.
Emosi.
Geram.
Ingin lagi.
Tapi ku menjaga.
Ingin melihat.
Tapi ku batasi.
Aku benci.
Benci akan kebodohan.
Kekurangpekaan.
Kedunguannya.
Ketololan.
Maksiat yang merajai itu buat darah ini meningkat.
Apa yang ku lihat buat sakit dan marah semua prajurit.
Sakit .
Ku tak bisa menjerit.
Sedih.
Ku tak bisa merintih.
Diam .
Hanya diam.
Dalam malam.
Biar sunyi .
Sengap.
Pengap .
Ini menyelinap masuk ke tubuh.
Biar aku menjalani dengan luka yang menusuk di kaki.
Biar semua berlalu.
Seperti angin lalu.
Biar semua terlewati bagai bangkai sang babi.
Aku benci.
Aku iri.
Aku sendiri.
Kamu benci aku senang.
Kamu pulang. Aku menghilang.
Aku datang dan semua hilang.
Aku benci!!!!!!!!!!!!!!!!

Dungu

Kenapa aku harus terpaku?
Kenapa kedunguan ini terus berlangsung.
Serasa idiot yang bodoh.
Dungu.
Dungu.
Dungu.
Bedebah kau.
Bajingan .
Sialan.
Binatang jalang kau.
Ahh.
Malas aku melihat.
Mendengar.
Merasa.
Ini lagi.
Ini lagi.
Aku ingin mencoba.
Tapi tak sanggup.
Hanya terpaku.
Terpaku.
Dan selamanya terpaku.
Ssialan.
Ah.
Aku ingin merasa.
Hal yang dulu lagi.
Mencoba mengawali seperti pertama.
Tapi tak bisa.
Tak mungkin.
Jarak ini sudah semakin jauh.
Jauh.
Jauh.
Jauh.
Suramadu pun terlewati oleh batas ini.
Benci.
Dendam.
Emosi.
Ingin.
Hasrat terpendam.
Tapi bukan birahi.
Hanya ingin.
Mencoba.
Mengulang.
Memutar.
Mengenang.
Mengingat.
Aku hanya bisa terdiam.
Tersenyum.
Tersungging melihat sosok dungu itu.
Aku benci kau dungu.
Aku benci kau bodoh.

Bayangan Dari Bayanganku

Tiba-tiba ku terdiam.
Terperanga dalam bingung.
Menganga dalam bodoh.
Terkejut dalam haru.

Jantung berdetum kemudian terhenti.
Berdetak lagi kemudian terengap.
Haruku dibuatnya.
Ingat kembali.
Bermimpi ku lagi.

Bayang kenangan indah terus bermunculan.
Menjejaki satu per satu bayangku.
Ingatku akan perbedaan.
Tapi elak terus ku lakukan.

Aku bukanlah aku dan dia yang dulu.
Beda kita beda waktu.
Beda tempat, hari, kehidupan.
Beda semua.

Tempatku kini bukan tempatku yang dulu.
Gelak tawa itu seolah diterkam siluman.
Tak ada lagi mereka.
Mereka yang melekat dalam ngiang.

Tak ada mereka.
Rindu, rindu sekali.
Tangisku hampir membanjir samudera.
Sedih, terisak diriku.

Mengingat..
Teringat..
Mengiang terus..
Tak bisa, aku masih belum bisa.

Melupakan semua kenangan.
Membuang semua kebersamaan.
Aku masih ingin bersama mereka.
Bayangan dari bayanganku.

Bunda

Monday, December 21, 2009



Bunda..
Dengar namamu buatku suka
Debar jantung terus berirama
Saat dekapmu hangatkan sukma

Bunda..
Diantara keindahan fana di dunia
Kau cipta berjuta dunia
Dunia yang miliki sejuta cinta

Bersamamu hangat terasa..
Raga pun tiada lagi hampa
Bersamamu buatku bahagia
Dikala suka atau dera menimpa

Bunda terimalah cinta anakmu ini
Cinta yang tak sebesar semua yang kau beri
Namun kasih ini akan terus ku curahkan
Kepada engkau ibundaku tersayang

Musnah Saja

Thursday, October 29, 2009

Aku benci dengan kata pisah .
Apalagi perpisahan yang berakhir kesedihan.
Aku tau kita akan bertemu lagi .
Tapi ku benci jeda yang menyisipnya .
Lebih baik ku bersiram kegelapan ibu kota .
lebih baik aku termakan dinosaurus yang telah lama punah .
dari pada harus berpisah walau hanya sebentar .
semua berubah saat perpisahan datang .
semua jadi hijau .
kuning .
biru .
marun .
tembaga .
hitam . kelam .
jingga .
ahh . muak aku dengan ini .
kenapa harus ada waktu dimana kita tak akan saling bertemu .
aku benci !!
aku muak !!
rasanya bagai diterkam harimau .
sama saja seperti di telan oleh tiram raksasa .
aku tak mau ini terjadi .
aku takut umurku tak cukup untuk mempertemukan kita lagi .
aku takut aku keburu pergi disaat kita akan kembali .
aku takut waktuku di dunia terhenti sebelum mengakhiri pertemuan kita dengan sempurna .
aku benci ini . aku benci itu .
aku benci di saat aku merasa benci dimana aku merasa menjadi orang yang paling di benci oleh orang yang paling di benci di dunia yang kita benci .

Tak Sebaik

Ternyata emas itu berkerak
Mengeras dan tak nampak
Padahal dulunya dia hiasi cantik pergelangan tangan
Tapi ternyata dia tidak lebih

Hanya emas yang tak berguna
Baik diawal
Menyisakan sesal di akhir

Semoga emas itu sadar
Berbenahlah kau emas putihku
Kuteguhkan citramu kan melambung
Asal kau kembali menjadi emas yang murni

Bukan emas yang busuk
Bukan seperti predator
Bukan pula parasit
Jadilah dirimu yang nyata

Kini Terkenang

Saya cemburu melihat anda
Berpegangan bersenandung bersama
Saya cemburu melihat anda
Terlihat mesra bak sudah menikah

Memang saya sempat melupan anda
Melupakan indah cerita kita
Bercanda, tertawa, bergembira
Tapi nyatanya apa

Saya benci anda
Saya benci menyukai anda
Saya benci melihat kalian berdua
Saya benci pernah bergurau bersama anda

My Lovely Pepper

Saturday, October 17, 2009

Cinta itu bagai bongkahan es
Bisa dibentuk, tapi bisa juga mencair
Saya mencintaimu
Lebih dari yang bisa saya ungkapkan

Pertama terkesan biasa
Lama-lama menjadi istimewa
Dan sekarang guratan kasih itu telah berada dalam peluk rindu
Aliran udara pun terasa terhempas disela-sela darah ini

Saya tak pernah tau apa yang saya rasa
Detum jiwa sangat bahagia
Jika lihat pesona ronamu
Bibir tersenyum hati bergetar

Saya tak tau apa yang saya rasa
Apakah kejujuran atau pelampiasan semata
Atau hanya suatu rasa fana
Mungkin juga terkesan saja

Tapi, kali ini kau mengisi ruang sempit di jiwa
Membayangi otakku dengan bayang dirimu
Sebenarnya saya muak
Karena nampaknya kau pun tak tanggap

Tapi apa mau dikata
Rasa telah lekat sukma
Gelora ini terus meronta
Walau kau tak mungkin menerima

Jeritan Itu

Friday, October 16, 2009


Jeritan malam bagai tak bertuan
Jeritan tangis iba terlihat miris
Mohon ampunku atas salahku
Mohon kasih-Mu atas cinta-Mu

Puluhan gedung kini rata dengan tanah
Ratusan mayat berserak bagai sampah
Sembah sujud mohon ampunan
Dosaku yang bertumpuk bagai pegunungan

Maafkan segala salahku, Tuhan
Rusak bumi-Mu memang ku kerjakan
Tapi tolong jangan kau tambahkan
Sentilan pahit tanda teguran

Mohon ampunku ya Rahman
Kini kusadari semua kesalahan
Memang kami biang kerusakan
Tapi, terimalah sembah sujud ampunan

Aku dan Asa

Thursday, July 09, 2009

Mengapa harum semerbak itu datang .
Padahal tak ada kupu-kupu di sekitarnya .
Mengapa harum itu menghilang .
Padahal banyak kupu-kupu di sekitarnya .

Ingin rasanya menangkap wangi itu .
Ingin rasanya menyatukannya dengan sang kupu-kupu .
Ingin rasanya ku bermimpi .
Tentang apa yang tak mungkin ku mimpikan .

Ingin rasanya kuberlari .
Lebih dari yang bisa si pelari itu lakukan .
Ingin rasanya mengubah jalan pikiranku .
Lebih dari sekedar dari yang profesor itu mampu .

Tapi,, sayang .
Ini hanya sebuah harapan .
Yang cepat datang .Cepat pula menghilang .
Bisa terwujud tapi sudah pasti akan terenggut .

Aku hanyalah aku .
Mimpi ini tetap jadi mimpiku .
Hingga ku masuk liang kubur .
Mimpi ini kan tetap mansyur .

Delicious Diaries Of Denis Copyright © 2009 Designed by Ipietoon Blogger Template for Bie Blogger Template Vector by DaPino